Top News

Perang Bubat, Kisah Fiksi Buatan Belanda Yang Populer

 

Perang Bubat, Kisah Fiksi Buatan Belanda Yang Populer 

Dyah Wijaya





Tak Pernah Ada Perang Bubat Dalam Sejarah. Perang Fiksi Buatan Belanda Itu Hanya Untuk Mencegah Bersatunya Jawa Dan Sunda Untuk Merdeka. Bahkan tak pernah ada Catatan Perang Bubat Di Negera Kertagama.


Perang Bubat hanyalah perang fiksi yang naskah kejadiannya dikreasi oleh Profesor Antropologi Belanda Prof.Dr.CC Berg. Naskah ini dibuat pada saat pemberontakan Sultan Herucakra, Pangeran Diponegoro, yang peperangan nya mengguncang seluruh Netherlands pada tahun 1825-1830.

Dalam perjuangan nya memerdekakan Nusantara, Pangeran Diponegoro berhasil menguasai seluruh Jawa Timur dan Jawa Bagian Tengah. Puncak pertempuran Diponegoro adalah saat pengaruh ide kemerdekaan Diponegoro menembus ke Jawa Barat dimana etnis Sunda menjadi etnis Nusantara asli di Jawa Barat dengan jumlah 35 persen dari seluruh etnis Nusantara. Sementara itu etnis Jawa memiliki jumlah paling tidak 55 % sampai 60 % dari seluruh etnis Nusantara. 



Para seniman Baru masih juga gagal memahami bahwa Petang Bubat Adalah Cerita fiksi karya Prof.Dr.CC. Berg yang punya tujuan utama memecah belah perjuangan kemerdekaan. 



Strategi licik Netherlands ini sangat tepat, karena jika Sunda Jawa bersatu pada saat itu, niscaya Bangsa Penjajah ini akan terusir dari Nusantara pada tahun 1825 an.

Akan tetapi Sultan Herucakra Pangeran Diponegoro memahami bahwa pertempuran yang dikobarkannya adalah pertempuran penting yang memang punya tujuan untuk memberi kan pemahaman bahwa Bangsa ini tak akan pernah tunduk pada imperialis asing. Bahkan suku Jawa yang lemah lembut dan tidak suka berperang atau bertikai pun akan bangkit melawan imperialis.

Ide berbahaya Pangeran Diponegoro yang cerdas inilah yang kemudian dilawan dengan ide licik cerita fiksi Perang Bubat yang bahkan jejak nya saja tak pernah ditulis dalam sejarah. 

Majapahit kerajaan besar, bahkan menulis cerita memalukan saat Tabib Bhayangkara Ra Tancha membunuh Raja Jayanegara, putra Raden Wijaya pendiri Majapahit. Bayangkan kisah memalukan saja ditulis dalam sejarah Majapahit.

Akan tetapi kisah kemenangan semu Perang Bubat palsu itu tak pernah ditemukan jejak nya dalam naskah naskah Negarakertagama dan naskah resmi lainnya. Sebagian seniman cerita mengarang cerita bahwa Perang Bubat adalah bagian dari realisasi Sumpah Pal-apa Sang Patih Mangkubumi Gajah Mada.

Realitasnya, tidak pernah ada satu catatan sejarah pun, yang mencatat tentang Perang Bubat yang berdarah darah sebagaimana yang diceritakan oleh seniman ngawur yang secara tidak sadar menyebarkan virus jahat devide et Impera antara Sunda Jawa yang berbahaya itu. Tak pernah ada setitik darah pun orang Sunda di lapangan Bubat Majapahit.

Aksi licik CC Bergh, membuat Naskah Sundayana yang bukan merupakan naskah resmi keraton manapun. Hanya merupakan naskah dengan integritas  di bawah naskah babat atau setara dengan cerita fiksi, cerita pengantar tidur, lullaby, yang dibuat dengan latar setting Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka. Seperti kisah fiksi ludruk atau sandiwara tradisional ketoprak Jawa yang kadang bahkan tidak jelas ini kisah dan cerita tentang apa.

Bahkan kisah Satria Madangkara yang terkenal di era 1990 itu sempat menjadi kisah sandiwara yang sangat disukai oleh para pendengar radio di Indonesia. Atau seperti kisah Nagapuspa Arya Kamandanu yang sangat fiktif tidak pernah terjadi. Akan tetapi kisah ini menjadi populer di masyarakat tahun 1990 an. Akan tetapi kisah fiksi Satria Madangkara jika tidak difahami dalam kerangka kisah fiksi, bisa bisa dianggap sebagai fakta sejarah. Karena begitu halus dan bagusnya sang penulis cerita. Apalagi cerita palsu Perang Bubat ini dibuat oleh Professor CC Berg, seorang ahli antropologi budaya yang tidak kaleng-kaleng.

Kisah lain yang juga fiksi akan tetapi setara dengan fiksi Perang Bubat misalnya adalah sejumlah kisah Panji Asmara bangun yang terkenal itu. Tidak pernah ada Panji Asmara bangun dalam sejarah, akan tetapi yang ada adalah Prabu Hayam Wuruk yang berjalan dari Barat ke Timur untuk mengejar mencari rombongan kekasih hatinya Dyah Pitaloka yang bahkan dicintai nya sebelum datang ke lapangan Bubat.

Sejarah mencatat intrik internal Majapahit soal perebutan garwa Prameswari Prabu Hayam Wuruk. Tapi bukan tentang Perang Bubat. Salah satu Paman Hayam Wuruk mengusulkan salah satu anaknya menjadi istri Raja Hayam Wuruk, bukan Dyah Pitaloka. 

Intrik perebutan kekuasaan di internal Majapahit ini kemudian mengalir fitnahnya ke Gajah Mada dan bahkan rombongan pengantin dari Sunda di lapangan Bubat.

Naskah ini menceritakan kisah fiksi ini dengan tujuan memecah konsentrasi peperangan Pangeran Diponegoro. 

Dan strategi Prof.Dr. CC Bergh ini berhasil. Ide fiksi tentang Perang Bubat pun memasuki dunia cerita di tengah masyarakat Sunda. Sehingga strategi devide et Impera untuk mengganjal Pangeran Diponegoro pun sukses. Perang Pangenan Diponegoro berhenti karena tidak mendapatkan dukungan dari tlatah Barat Tanah Sunda.

Ramalan Prabu Jayabaya tentang pembebas Nusantara ini baru berhasil direalisasikan oleh Bung Karno yang dengan hati hati memadukan unsur ketimuran Majapahit dan unsur Barat yang dibawa oleh Kesundaan.














Previous Post Next Post