Top News

Senin Malam 2 Februari ini, Malam Nisfu Sya'ban

Senin Malam 2 Februari ini, Malam Nisfu Sya'ban 




Bandung, Jurnal Nusa Antara

Nisfu Sya'ban adalah tanggal 14 bulan Sya'ban dan malam harinya, menjelang peralihan ke tanggal 15 Sya'ban. Penamaan ini seperti Hari Kamis malam yang disebut juga Malam Jum'at. 

Dalam sejumlah hadits, disebutkan bahwa pada Ashar tanggal 14 Sya'ban diangkatlah amal-amal manusia 1 tahun yang telah berlalu, dan kemudian ditetapkan amal-amal manusia 1 tahun ke depan. 

Apa yang terjadi pada malam nisfu sya'ban ini sedemikian penting. 

Karena pada waktu inilah, catatan amal tahunan naik kepada Allah, dan penetapan catatan 1 tahun ke depan ditetapkan diturunkan oleh Allah.

Secara umum, proses naik turunnya catatan amal adalah sebagai berikut : 

Catatan amal harian naik pada waktu Ashar setiap hari, 

Catatan amal dalam 1 minggu naik pada waktu Ashar di hari kamis sore. Oleh karena itulah malam Jum'at menjadi penting, dan kemudian puasa Kamis menjadi sunnah yang cukup penting. 

Demikian pula yang terjadi pada malam 14 Sya'ban. Catatan amal 1 tahun akan naik dan penetapan amal 1 tahun ke depan ditentukan. 

Bagaimana sebenarnya logika mengenai hal ini difahami ? 

Tentu saja untuk memahami hal ini diperlukan iman. Jika hanya memperturutkan logika lahir tanpa iman, maka tidak akan bisa diterima penjelasan ini. Bahkan sebagian orang mengatakan hal ini, adalah bagian dari Israiliat yang tidak jelas.

Jika logika lahir tidak berkembang luas, maka tidak akan ada satu pun ajaran agama yang bisa diterima. 

Beragama adalah beriman dengan Al Ghoib (sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Baqoroh ayat-ayat awal).

Dan tentu saja penjelasan-penjelasan tentang Nisfu Sya'ban akan memicu perdebatan yang tidak ada habis-habisnya. Karena perdebatan tentang hal yang gaib, yang didukung oleh akal lahiriah yang terbatas, pasti tidak akan menemukan penjelasan yang memuaskan. Bagaimana Malaikat itu dilogika-lahiriah-kan ? Bukankah ini adalah hal yang tidak mudah.

Komunisme yang pernah ada di Indonesia pernah mementaskan pentas Matinya Malaikat Jibril, karena mencoba menghina iman kepada Malaikat Allah.

Beragama adalah beriman kepada yang ghaib, yang bahkan akal lahiriah, tidak mampu memahami dan mencapainya. Dibutuhkan akal yang bercahaya, yang lebih dalam, untuk memahami nya.

***

Sya’ban adalah salah satu bulan istimewa, bulan yang dihormati dalam agama Islam, selain Muharram, Dzulhijjah dan Rajab.

Rasulullah menyatakan bahwa Rajab adalah Bulan Allah, Sya'ban adalah Bulan ku (Muhammad) dan Ramadhan adalah bulan umat Muhammad.

Nama Bulan Bulan Hijriah
(1) Muharram, (2) Shafar, (3) Rabiul AWwal, (4) Rabiul Akhir (5) Jumadil Awwal, (6) Jumadil Tsani (Akhir), (7) Rajab, (8) Sya'ban, (9) Ramadhan, (10) Syawal, (11) Dzulkaidah, (12) Dzulhijjah,

Malam 15 Bulan Sya'ban (Tanggal 14 Sya'ban), dikenal dengan nama malam Nisfu Sya’ban termasuk Malam yang diistimewakan.

NISFU artinya pertengahan, maka malam Nisfu Sya’ban artinya malam pertengahan bulan Sya’ban. Kalau dirujuk kepada kalender Hijriyah, maka malam itu jatuh pada tanggal 14 Sya’ban (malam 15 Sya'ban) karena pergantian tanggal, sesuai penanggalan berbasis perhitungan hilal atau yang menggunakan patokan pergerakan bulan adalah saat matahari terbenam atau malam tiba. Berbeda dengan metode perhitungan Masehi dengan pergerakan matahari, yang mengawali perhitungan hari, saat matahari terbit.

Malam Nisfu Sya'ban merupakan salah satu dari beberapa malam yang bagus untuk berdoa karena dalam suatu riwayat disebutkan bahwa berdoa pada malam itu tidak akan pernah ditolak oleh Allah.

Malam Nisyfu Sya'ban termasuk dalam 5 malam yang berdasarkan riwayat sangat bagus atau mustajab untuk berdoa. Kelima malam tersebut adalah  

malam Jumat,
malam pertama bulan Rajab,
malam Nisfu Sya’ban,
malam Lailatul Qadar,
malam hari raya Idulfitri dan
malam hari raya Kurban atau Idul Adha.

Nisfu Sya'ban adalah saat berdoa memohon kepada Allah, agar amal satu tahun yang lalu diterima dengan penilaian terbaik dan agar 1 tahun ke depan diberikan takdir terbaik. Diberikan nasib terbaik.


Amalan Nisfu Sya’ban

Catatan Nisfu Sya'ban Tahun lalu :

  • Tahun 2026 : Minggu (13 Sya'ban 1447 H  /1 Februari 2026)
  • Tahun 2023 : Minggu (13 Sya'ban 1444 H/ 5 Maret 2023)
  • Tahun 2022 : Rabu (13 Sya'ban 1443/16 Maret 2022)
  • Tahun 2019 : Selasa (13 Sya'ban 1440)  (Catatan Tahun 2019 lalu : Selasa (7 April 2019), Rabu (8 April 2019), dan Kamis (9 April 2019), dalam penanggalan Hijriah : tanggal 13, 14, 15 Sya'ban 1440 Hijriyah)
  • Tahun 2020 Kamis (13 Sya'ban 1441)
  • Tahun 2021 : Sabtu (13 Sya'ban 1442/27 Maret 2021) 


1. Minggu (13 Sya'ban 1447 / 1 Februari 2026) 

Pada hari Minggu 1 Februari 2026 disunnahkan puasa tanggal 13 Sya'ban, (puasa ayyamul bidh, Sunnah puasa tengah bulan)

Puasa 3 hari pertengahan bulan (Shaum Ayyamul Bidh), yaitu dimulai hari Minggu (1 Februari 2026), Senin (2 Februari 2026), dan Selasa (3 Februari 2026), dalam penanggalan Hijriah : tanggal 13, 14, 15 Sya'ban 1447 Hijriyah.


Berikut Niat Puasa Nisfu Syaban

نويت صوم شهر شعبان سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAHBAN SUNNATAN LILLAHI TA'ALA


"Saya niat puasa bulan sya'ban sunnah karena Allah ta’ala".

2. Senin (14 Sya'ban 1447/ 2 Februari 2026) : Malam Nisfu Sya'ban



Pada hari Senin 2 Februari 2026, puasa ayamul bidh tanggal 14 Sya'ban. Malam harinya adalah malam Nisfu Sya'ban. 
 

Siang : Puasa Ayyamul Bidh Hari kedua
Malam :
Malam Nisfu Sya'ban/ 15 Sya'ban

 

Rangkaian Ibadah Malam Nisyfu Sya'ban

(1) Sholat MAGHRIB
(2) Sholat Bakda Maghrib 2 rakaat

(3) Shalat Sunnah NISFU SYA'BAN


Versi 1 :
Sholat Nisyfu Sya'ban : 2 Rakaat 
Rakaat Pertama membaca Al Kafirun,
Rakaat Kedua Membaca Al Ihlas


Sholat dua rakaat yang niatnya adalah

أصلى سنة نصف شعبان ركعتين لله تعالى

Artinya: Aku niat shalat sunat nisfu sya’ban 2 rakaat sebagai karena Allah Ta’ala.

Bilangan shalat sunnah Nisfu Sya’ban adalah 2 rakaat dengan 1 kali salam. 

(i) Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Kafirun.
(ii) Sedangkan pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Ikhlas.


Versi 2 :
Sholat Al Khair : 2 rakaat / 10 rakaat
 
Setiap rakaat membaca Surat Al Ikhlas 11 kali   

Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Ghazali memberikan petunjuk agar dalam setiap rakaatnya, setelah membaca Al Fatihah hendaknya membaca surat al-Ikhlas sebelas kali. Atau dapat juga shalat sepuluh rakaat disetiap rakaatnya membaca Fatihah dan membaca Al-Ikhlas seratus kali.

Shalat ini disebut juga Shalat Al-khair


Versi 3 :
Sholat 4 rakaat 

Setiap rakaat membaca Surat Al Ikhlas 10 kali   

Pada ba'da Magrib, melaksanakan shalat sebanyak 4 rakaat (2x salam, di luar rawatib) dengan  membaca surat *Al-fatihah 1x dan surat al-ikhlas 10x pada setiap raka'atnya.*


(4) Doa Setelah Sholat

Setelah sholat membaca


1. Yaa Robbighfirlana (10x), *wahai Rabbi Ampunilah kami"...
2. "Yaa Rabbi Irhamna (10x), ..."wahai Rabbi Kasihilah kami"....

~ Irhamnaa memang bisa mengandung makna : Rahmatilah, karena dasar rahmat (pertolongan) tentu dari aspek kasih sayang Allah, dari akar kata Arab yang sama.

3. Yaa Rabbi tub'alaina (10x) ... "wahai Rabbi Kembalilah kepada kami"....

Tub 'alaina = kalau diterjemahkan apa adanya berarti kembalilah kepada kami. Tapi ketika masyarakat umum menerjemahkan akan kesulitan memahaminya, dan lebih bisa dipahami dengan makna umum, terimalah taubat kami, padahal cara Allah menerima taubat kita adalah ketika Dia Ta'ala kembali turun  mendekati kita, setelah kita naik mendekati-Nya, dan bertemulah di alam pertemuan barzakh (sebagai mana yang dilambangkan dengan bintang Daud)

 

4. Al-ikhlas (21x), 

5. Subhaanaladzi yuhyi-l-mauta wa yumiitu-l-ahya wa 'alaa kulli syaiin qodir (10x)...

*"Bertasbih kepada Dia yang menghidupkan kematian, dan mematikan sebuah kehidupan, dan Dia Maha berkuasa atas segala sesuatu*."

 

6. Membaca surat yasin tiga kali
Setelah shalat sunnah dua rekaat biasanya dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin 3 kali
 

7. Doa Malam Nisyfu Sya'ban
Ditutup dengan Do’a malam Nisyfu Sya’ban di bawah ini

Doa Nisfu Sya'ban


اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَ لا يَمُنُّ عَلَيْكَ

ALLAAHUMMA YAA DZAL MANNI WALAA YAMUNNU ALAIKA 

 يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ

YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM, 

 ياَ ذَا الطَّوْلِ وَ اْلاِنْعَامِ 

YAA DZATH THAULI WAL IN AAM, 

لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ

LAA ILAAHA ILLAA ANTA, DHOHROL LAAJIINA,
WA JAAROL MUSTA JIIRIINA,

وَ اَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ .

WA AMAANAL KHAA I FIINA, 

 اَللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِى عِنْدَكَ فِيْ اُمِّ اْلكِتَابِ

ALLAAHUMMA IN KUNTA KATABTA NII
INDAKA FII UMMIL KITAABI

شَقِيًّا اَوْ مَحْرُوْمًا 

SYAQIYYAN AW MAHRUU MAN 

اَوْ مَطْرُوْدًا اَوْ مُقْتَرًّا عَلَىَّ

 AW MATHRUUDAN AW MUQTARRAN ALAYYA 

فِى الرِّزْقِ

FIR RIZQI, 

 فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِيْ اُمِّ اْلكِتَابِ شَقَاوَتِي

FAMHU LLAA HUMMA BI FADLLIKA FII UMMIL KITAABI SYAQAAWATII 

 وَ حِرْمَانِي وَ طَرْدِي وَ اِقْتَارَ رِزْقِي

WA HIRMAANII WA THARDII WAIQ TAARO RIZQII 

 وَ اَثْبِتْنِىْ عِنْدَكَ فِي اُمِّ اْلكِتَابِ

WA ATS-BITNII INDAKA FII UMMIL KITAABI 

 سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ

SAIIDAN MARZUUQAN MUWAFFAQALLIL KHAIRAATI.

فَإِنَّكَ قُلْتَ وَ قَوْلُكَ اْلحَقُّ 

FA INNAKA QULTA WA QAULUKAL HAQQU 

فِى كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ

FII KITAABIKAL MUNZZALI ALAA NABIYYIKAL MURSALI, 

   يَمْحُواللَّهُمَّ 

YAMHUL LAAHUMAA

 يَمْحُو اللهُ 

YAMHUL LAAH

مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ اُمُّ اْلكِتَابِ.

MAA YASYAA U WA YUTSBITU WA INDAHUU UMMUL KITAAB. 

 اِلهِيْ بِالتَّجَلِّى اْلاَعْظَمِ

ILAAHII BITTAJALLIL A' DHOMI 

 فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ

FII LAILATIN NISHFI MIN SYAHRI SYABAANIL

الْمُكَرَّمِ الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا

MUKARRAMIL LATII YUFRAQU FIIHAA 

 كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ 

KULLU AMRIN HAKIIM 

وَ يُبْرَمُ اِصْرِفْ عَنِّيْ مِنَ اْلبَلاَءِ

WA YUBROMU, ISHRIF ANNII MINAL BALAA I 

 مَا اَعْلَمُ وَ مَا لا اَعْلَمُ

MAA A' LAMU WA MAA LAA A' LAMU 

 وَاَنْتَ عَلاَّمُ اْلغُيُوْبِ 

WA ANTA ALLAA MUL GHUYUUBI 

بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

BIRAHMATIKA YAA ARHAMAR RAAHIMIIN.

 وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ . اَمِيْنَ


 

ALLAAHUMMA YAA DZAL MANNI WALAA YUMANNU ALAIKA  YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM, YAA DZATH THAULI WAL IN AAM, LAA ILAAHA ILLAA ANTA, DHOHROL LAAJIINA, WA JAAROL MUSTAJIIRIINA,

WA AMAANAL KHAA IFIIN, ALLAAHUMMA IN KUNTA KATABTA NII INDAKA FII UMMIL KITAABI SYAQIYYAN AW MAHRUUMAN AW MATHRUUDAN AW MUQTARRAN ALAYYA  FIR RIZQI,

FAMHU LLAA HUMMA BI FADLLIKA FII UMMIL KITAABI SYAQAAWATII WA HIRMAANII WA THARDII WAIQ TAARO RIZQII WA ATS-BITNII INDAKA FII UMMIL KITAABI  SAIIDAN MARZUUQAN MUWAFFAQALLIL KHAIRAATI. FA INNAKA QULTA WA QAULUKAL HAQQU FII KITAABIKAL MUNZZALI ALAA NABIYYIKAL MURSALI,

YAMHUL LAAHUMAA  MAA YASYAA U WA YUTSBITU WA INDAHUU UMMUL KITAAB.ILAAHII BITTAJALLIL A'DHoMI FII LAILATIN NISHFI MIN SYAHRI SYABAANIL MUKARRAMIL LATII YUFRAQU FIIHAA KULLU AMRIN HAKIIM

WA YUBROMU, ISHRIF ANNII MINAL BALAA I . MAA A' LAMU WA MAA LAA A' LAMU WA ANTA ALLAAMUL GHUYUUBI BIRAHMATIKA YAA ARHAMAR RAAHIMIIN.

"Ya Allah, Dzat Pemilik anugrah, bukan penerima anugrah. Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai dzat yang memiliki kekuasaan dan kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau: Engkaulah penolong para pengungsi, pelindung para pencari perlindungan, pemberi keamanan bagi yang ketakutan. Ya Allah, jika Engkau telah menulis aku di sisiMu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka atau terhalang atau tertolak atau sempit rezeki, maka hapuskanlah, wahai Allah, dengan anugrahMu, dari Ummul Kitab akan celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rezeki, dan tetapkanlah aku di sisimu, dalam Ummul Kitab, sebagai orang yang beruntung, luas rezeki dan memperoleh taufik dalam melakukan kebajikan. Sunguh Engkau telah berfirman dan firman-Mu pasti benar, di dalam Kitab Suci-Mu yang telah Engkau turunkan dengan lisan nabi-Mu yang terutus: “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan apa yang dikehendakiNya dan di sisi Allah terdapat Ummul Kitab.” Wahai Tuhanku, demi keagungan yang tampak di malam pertengahan bulan Sya’ban nan mulia, saat dipisahkan (dijelaskan, dirinci) segala urusan yang ditetapkan dan yang dihapuskan, hapuskanlah dariku bencana, baik yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, demi RahmatMu wahai Tuhan Yang Maha Mengasihi. Semoga Allah melimpahkan solawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Amin."
 

Setelah itu disarankan dzikir hingga datang waktu isya, lebih diutamakan membaca al-Quran - terutama Qur'an Surah Yaasiin.

 

(5) Shalat ISYA' 
(6) Sholat Bakda Isya'
 

(7) Shalat SUNNAH TASBIH 

Sholat Sunnah Tasbih empat rakaat, bisa dikerjakan berjamaah atau sendiri

4 rakaat (boleh 2 rakaat 2 kali)

RAKAAT 1 

Al fatihah, surat, Tasbih 15 X
ruku, doa ruku', Tasbih 10 x
i'tidal, doa, Tasbih 10x
sujud 1, doa, Tasbih 10x
duduk antara 2 sujud, doa, Tasbih 10x
sujud 2, doa, Tasbih 10x
duduk, Tasbih 10 x

bangun rakaat kedua

RAKAAT 2

....pembacaan tasbih sama seperti rakaat pertama
......

Al fatihah, surat, Tasbih 15 X
ruku, doa ruku', Tasbih 10 x
i'tidal, doa, Tasbih 10x
.......

sujud 1, doa, tasbih 10x
duduk antara 2 sujud, doa, tasbih 10x
sujud 2, doa, tasbih 10x
duduk, doa tasyahud akhir, tasbih 10 x
Salam

sampai rakaat terakhir

(Bacaan Tasbih dalam sholat adalah : Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah hu Allah Hu Akbar)

 

DOA-DOA SETELAH SHOLAT TASBIH

1. Dzikr Nabi Yunus
Ucapkan atau bacalah zikir Nabi Yunus, yaitu

laa ilaaha anta subhanaka inni kuntum minazzolimin 1.275 x


2. Sholawat dan Istighfar
Perbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW., Dzikr, doa dan istighfar.


(8) Sholat Bara'ah 


100 Rakaat 

Setiap 2 RAKAAT, AL IKHLAS (10X ATAU 11X ATAU 5X)

Adapun yang sering dilakukan oleh sebagian umat Islam, yaitu Salat Malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat (SHALAT BARA'AH) dilaksanakan ba'da Isya dengan ketentuan yaitu :

*~ Sholat 100 rakaat terdiri dari 2 rakaat berulang (berarti 2 rakaat x 50 kali), dan membaca


Al-Fatihah 1x dilanjutkan
Al-Ikhlas 10/11x pada setiap rakaatnya.*
(Al Ikhlas bisa 5 x ~ *KZ*)
~

*Sholat Bara'ah bermakna PEMBEBASAN.*
*Mohon pembebasan dari dosa dan Qishosh.


Saat Nisfu Sya'ban adalah saat diangkatnya amal-amal setahun yang lalu. Saat yang tepat bagi kita memohonkan 'KETETAPAN' yang baik untuk setahun ke depan.*

Bagi perempuan yang sedang berhalangan (Haid), ibadah yang dapat dilakukan adalah :


~ Dzikir (boleh dinyaringkan) , membaca Qur'an (hanya di dalam hati), dan berdo'a/munajad.

Catatan :
Bagi yang akan mengeluarkan zakat tahunan, atau infaq/shadaqah sebaiknya dilaksanakan sebelum Nisfu Sya'ban. Juga jangan lupa menyelesaikan janji-janji yang belum tertunaikan, utang yang bisa dibayar.


3. Selasa (15 Sya'ban 1447/ 3 Februari 2026)


Siang :

Puasa Ayyamul Bidh Hari ketiga

Malam :


Dianjurkan banyak beristighfar, tafakkur dan berdoa, karena pada saat inilah saat *TURUNNYA AMR'-AMR BARU setahun ke depan.*


Hadits Tentang Nisfu Sya'ban

 


Previous Post Next Post